Thursday, February 27, 2014

03. Sakura Hana


Sakura Hana. Bunga Sakura. Bunga Musim Semi. Nama Sakura dalam Bahasa Jepang berasal dari kata Saku yang berarti Mekar. Ra adalah bentuk jamaknya. Jadi Sakura itu artinya – Mekar Bersamaan. Mekar Bersama-Sama. Memang salahsatu keunikan bunga Sakura adalah bahwa ketika mekar – mereka mekar bersamaan.

Hampir tiap hari aku melewati taman Yotsuya dalam perjalanan pulang pergi dari Asramaku di Yotsuya – di Jantung kota Tokyo - ke Kampus Ichigaya dimana aku bertugas belajar – yang berjarak sekitar 2 kilometer. Pada bulan September - saat aku pertama tiba di Jepang pada permulaan Musim Gugur – terlihat banyak pepohonan di taman itu – pepohonan dari jenis yang sama. Tiada bunga – hanya daun-daunnya saja yang nampak mulai meranggas dan berguguran. Aku tidak tahu pohon apa itu. Ketika masuk musim Dingin – taman terlihat semakin meranggas – dengan salju kadang terlihat menempel di batang dan dahan. Taman Yotsuya bersih, terawat dan indah sesungguhnya – namun tiada bunga.

Ketika musim Dingin berakhir – masuk akhir bulan Maret – ketika pada suatu pagi seperti biasa aku melewati taman Yotsuya – aku terpana. Sungguh terpana. Terpapar keindahan yang begitu indah. Keindahan yang sungguh luarbiasa. Keindahan dari bunga bunga Sakura yang mekar bersamaan di seluruh pohon yang ada di taman itu. Dan taman pun langsung berubah total. Menjadi taman yang sungguh indah – sangat indah – dengan bunga Sakura memenuhi seluruh sudut dan penjuru taman. Itulah saat pertama kali aku melihat keindahan bunga Sakura – saat aku tugas belajar di Jepang lebih dari 30 tahun lalu. 



 
Tak heran bunga ini menjadi Bunga Nasional di Jepang. Inilah lambang dari Kegembiraan. Lambang dari Keceriaan. Lambang dari Musim Semi. Namun Sakura adalah juga sekaligus sebuah Metafora dari Kehidupan manusia yang tidak kekal. Kehidupan manusia yang kadang mengalami saat-saat indah. Namun tak pernah lama dan tak pernah kekal – seperti hal nya bunga Sakura yang begitu indah namun hanya mekar selama sepuluh hari hingga dua minggu dalam satu tahun – dan hanya sekali saja dalam setahun.




Bunga Sakura yang aku lihat di Taman Yotsuya itu seluruhnya berwarna merah jambu. Namun ada pula bunga Sakura yang berwarna putih, kuning muda, merah menyala dan bahkan hijau.

Di Tiongkok – bunga Sakura – yang dalam bahasa Mandarin disebut Ying Hua ini sering dipasang dalam bentuk replikanya pada hari-hari seputar Hari Tahun Baru Imlek. Tak heran karena Tahun Baru Imlek sejatinya adalah sebuah Perayaan Musim – Perayaan untuk menyambut tibanya Musim Semi. Dan tentu tidak ada bunga yang lebih tepat menggambarkan dan melambangkan musim Semi ini daripada Ying Hua - bunga Sakura.

Keunikan bunga Sakura adalah bahwa ketika mekar – ia mekar bersamaan – dan mekar hanya dalam waktu yang singkat – sepuluh hari hingga dua minggu dalam setahun – pada akhir bulan Maret hingga awal bulan April saat cuaca mulai menghangat.

Dalam Metafora Kehidupan manusia – mekarnya bunga Sakura melambangkan saat-saat Musim Semi dalam kehidupan manusia – ketika badan muda, kesehatan prima, karir sedang berada di puncak dan mungkin kocek penuh bergelimang harta. Namun – seperti mekarnya bunga Sakura – saat-saat manis dalam kehidupan seperti ini tidaklah berlangsung lama. Sehebat apa pun seorang manusia – dalam kehidupan ini – ia harus melalui proses Lahir, Tumbuh Dewasa, Menua dan Mati. Tidak ada perkecualian dalam hal ini – bagi seorang pengemis atau pun bagi seorang konglomerat.

Orang Jepang – bahkan mengadakan satu perayaan khusus demi menyambut mekarnya bunga Sakura ini. Perayaan ini disebut Hanami dan telah ada sejak Abad ke 8 Masehi. Hanami artinya merenung dan memandang keindahan bunga Sakura. Dalam artian yang lebih dalam – merenung dan memandang keindahan saat -saat dalam kehidupan seperti saat mekarnya bunga Sakura tetapi sekaligus juga merenungi kefanaan kehidupan ini yang berlangsung tak lama dan selalu berubah. Dan sesungguhnya ini adalah juga satu perenungan tentang salah satu ajaran Inti sang BuddhaSabbe Sankhara Anitya - Segala sesuatu yang berkondisi tidaklah kekal. 

Hanami berbeda dengan Picnic dalam budaya Inggris. Picnic lebih menekankan kebersamaan antar keluarga, kerabat atau kelompok dengan mengadakan makan-makan bersama di luar rumah – dan memilih satu tempat yang indah sambil bersama-sama menikmati pemandangan dan bersantai. Jadi artinya lebih ke makan-makan bersama untuk membina hubungan yang lebih dekat sambil menikmati pemandangan suatu tempat dan sekaligus bersantai bersama. Hanami tekanannya lebih ke memandang keindahan bunga Sakura sambil sekaligus melakukan perenungan tentang keindahan, kegembiraan – namun juga kesedihan, kefanaan – makna dari kehidupan itu sendiri. Makan-makan hanya menjadi pelengkap saja.

Sakura Hana. Bunga Sakura. Ia bukan sekedar bunga. Sakura mengingatkan manusia akan adanya dua sisi kehidupan. Ada saat bunga merekah dengan indahnya – tak lama ada saatnya bunga berguguran. Ada kegembiraan, keceriaan – namun juga ada kesedihan. Ada hidup. Ada saatnya mati.

Manusia yang tercerahkan – karenanya – seyogyanya jangan terikat – jangan melekat dalam kehidupan ini. Agar dalam evolusi jiwanya ia berkembang – karena ia mengerti benar fakta tentang sejatinya kehidupan ini.

Sakura Hana. Bunga Sakura. Bunga yang unik. Bunga yang sangat indah. Bunga yang mengingatkan manusia akan kesunyataan hidup - keceriaan, kesedihan, kehidupan dan kematian.

Hanami. Memang seyogyanya manusia dalam hidupnya selalu merenungi dan mengingat bahwa kehidupan – keceriaan dan kegembiraan dalam hidup kadang seperti halnya bunga Sakura yang mekar - berlangsung tak lama. Dengan memahami kehidupan seperti apa adanya – ia akan menjadi kuat – tercerahkan dan mengerti akan kesunyataan kehidupan manusia yang memang fana ini.

No comments:

Post a Comment