Sakura
Hana. Bunga
Sakura.
Bunga Musim Semi. Nama Sakura
dalam Bahasa Jepang
berasal dari kata Saku
yang berarti Mekar.
Ra
adalah bentuk jamaknya. Jadi Sakura
itu artinya –
Mekar Bersamaan. Mekar Bersama-Sama. Memang salahsatu keunikan bunga
Sakura adalah
bahwa ketika mekar – mereka mekar bersamaan.
Hampir
tiap hari aku melewati taman Yotsuya
dalam perjalanan pulang pergi dari Asramaku di Yotsuya
– di Jantung kota Tokyo
- ke Kampus Ichigaya
dimana aku bertugas belajar – yang berjarak sekitar 2 kilometer.
Pada bulan September - saat aku pertama tiba di Jepang pada
permulaan Musim Gugur – terlihat banyak pepohonan di taman itu –
pepohonan dari jenis yang sama. Tiada bunga – hanya daun-daunnya
saja yang nampak mulai meranggas dan berguguran. Aku tidak tahu pohon
apa itu. Ketika masuk musim Dingin – taman terlihat semakin
meranggas – dengan salju kadang terlihat menempel di batang dan
dahan. Taman Yotsuya
bersih, terawat dan indah sesungguhnya – namun tiada bunga.
Ketika
musim Dingin berakhir – masuk akhir bulan Maret – ketika pada
suatu pagi seperti biasa aku melewati taman Yotsuya
– aku terpana. Sungguh terpana. Terpapar keindahan yang begitu
indah. Keindahan yang sungguh luarbiasa. Keindahan dari bunga bunga
Sakura
yang mekar bersamaan di seluruh pohon yang ada di taman itu. Dan
taman pun langsung berubah total. Menjadi taman yang sungguh indah –
sangat indah – dengan bunga Sakura
memenuhi seluruh sudut dan penjuru taman. Itulah saat pertama kali
aku melihat keindahan bunga Sakura
– saat aku tugas belajar di Jepang lebih dari 30 tahun lalu.
Tak
heran bunga ini menjadi Bunga Nasional di Jepang. Inilah lambang dari
Kegembiraan. Lambang dari Keceriaan. Lambang dari Musim Semi.
Namun Sakura
adalah juga sekaligus sebuah Metafora dari Kehidupan manusia yang
tidak kekal. Kehidupan manusia yang kadang mengalami saat-saat
indah. Namun tak pernah lama dan tak pernah kekal – seperti hal nya
bunga Sakura
yang begitu indah namun hanya mekar selama sepuluh hari hingga dua
minggu dalam satu tahun – dan hanya sekali saja dalam setahun.
Bunga
Sakura
yang aku lihat di Taman Yotsuya
itu seluruhnya berwarna merah jambu. Namun ada pula bunga Sakura
yang berwarna putih, kuning muda, merah menyala dan bahkan hijau.
Di
Tiongkok – bunga Sakura
– yang dalam bahasa Mandarin disebut Ying
Hua ini sering
dipasang dalam bentuk replikanya pada hari-hari seputar Hari Tahun
Baru Imlek. Tak heran karena Tahun Baru Imlek sejatinya adalah
sebuah Perayaan Musim – Perayaan untuk menyambut tibanya Musim
Semi. Dan tentu tidak ada bunga yang lebih tepat menggambarkan dan
melambangkan musim Semi ini daripada Ying
Hua - bunga Sakura.
Keunikan
bunga Sakura adalah
bahwa ketika mekar – ia mekar bersamaan – dan mekar hanya dalam
waktu yang singkat – sepuluh hari hingga dua minggu dalam setahun –
pada akhir bulan Maret hingga awal bulan April saat cuaca mulai
menghangat.
Dalam
Metafora Kehidupan manusia – mekarnya bunga Sakura
melambangkan saat-saat Musim Semi dalam kehidupan manusia – ketika
badan muda, kesehatan prima, karir sedang berada di puncak dan
mungkin kocek penuh bergelimang harta. Namun – seperti mekarnya
bunga Sakura
– saat-saat manis dalam kehidupan seperti ini tidaklah berlangsung
lama. Sehebat apa pun seorang manusia – dalam kehidupan ini – ia
harus melalui proses Lahir, Tumbuh Dewasa, Menua dan Mati. Tidak ada
perkecualian dalam hal ini – bagi seorang pengemis atau pun bagi
seorang konglomerat.
Orang
Jepang – bahkan mengadakan satu perayaan khusus demi menyambut
mekarnya bunga Sakura
ini. Perayaan ini disebut Hanami
dan telah ada sejak Abad ke 8 Masehi.
Hanami artinya
merenung dan memandang keindahan bunga Sakura.
Dalam artian yang lebih dalam – merenung dan memandang keindahan
saat -saat dalam kehidupan seperti saat mekarnya bunga Sakura
tetapi sekaligus juga merenungi kefanaan kehidupan ini yang
berlangsung tak lama dan selalu berubah. Dan sesungguhnya ini adalah juga satu perenungan tentang salah satu ajaran Inti sang Buddha - Sabbe Sankhara Anitya - Segala sesuatu yang berkondisi tidaklah kekal.
Hanami
berbeda dengan Picnic
dalam budaya
Inggris. Picnic
lebih menekankan kebersamaan antar keluarga, kerabat atau kelompok
dengan mengadakan makan-makan bersama di luar rumah – dan memilih
satu tempat yang indah sambil bersama-sama menikmati pemandangan dan
bersantai. Jadi artinya lebih ke makan-makan bersama untuk membina
hubungan yang lebih dekat sambil menikmati pemandangan suatu tempat
dan sekaligus bersantai bersama. Hanami
tekanannya lebih ke
memandang keindahan bunga Sakura
sambil sekaligus melakukan perenungan tentang keindahan, kegembiraan
– namun juga kesedihan, kefanaan – makna dari kehidupan itu
sendiri. Makan-makan hanya menjadi pelengkap saja.
Sakura
Hana. Bunga
Sakura.
Ia bukan sekedar bunga. Sakura
mengingatkan manusia akan adanya dua sisi kehidupan. Ada saat bunga
merekah dengan indahnya – tak lama ada saatnya bunga berguguran.
Ada kegembiraan, keceriaan – namun juga ada kesedihan. Ada hidup.
Ada saatnya mati.
Manusia
yang tercerahkan – karenanya – seyogyanya jangan terikat –
jangan melekat dalam kehidupan ini. Agar dalam evolusi jiwanya ia
berkembang – karena ia mengerti benar fakta tentang sejatinya
kehidupan ini.
Sakura
Hana. Bunga Sakura.
Bunga yang unik. Bunga yang sangat indah. Bunga yang mengingatkan
manusia akan kesunyataan hidup - keceriaan, kesedihan, kehidupan
dan kematian.
Hanami.
Memang seyogyanya manusia dalam hidupnya selalu merenungi dan
mengingat bahwa kehidupan – keceriaan dan kegembiraan dalam hidup
kadang seperti halnya bunga Sakura
yang mekar -
berlangsung tak lama. Dengan memahami kehidupan seperti apa adanya
– ia akan menjadi kuat – tercerahkan dan mengerti akan
kesunyataan kehidupan manusia yang memang fana ini.


No comments:
Post a Comment